13 Februari 2011

Dari Pengalamanku Kehilangan Orang-Orang yang Sangat Ku Sayangi

Berturut-turut saya kehilangan orang-orang yang sangat saya sayangi.
Pertama, nenek yang sangat saya sayangi pada tahun 2006.
Kedua, kakek yang sangat saya sayangi pada tahun 2008.
Ketiga, ayah yang sangat sayangi pada tahun 2010.
Semuanya berjarak 2 tahun.
Saya sangat terpukul dan perasaan sedih tak kunjung habisnya.
Bahkan ketika saya menulis di blog ini, saya sekuat tenaga menahan agar air mata tidak terjatuh.

Dari pengalaman yang sangat menyakitkan itu, saya akan sedikit berbagi bagaimana caranya menemani orang yang sedang berduka.
Karena pada saat saya ditinggalkan orang-orang yang saya sayangi, ada beberapa orang yang niatnya menghibur malah membuat semakin bersedih, marah, dan bahkan kesal.
Hal ini karena mereka tidak tahu apa yang harus mereka lakukan.

Wajar, jika orang yang ditinggalkan, perlu diberi waktu untuk berduka cita.
Tapi ada kewajiban pada orang-orang di sekeliling orang yang ditinggalkan untuk memberikan rasa nyaman dan pengertian padanya.
Menemani orang yang sedang berduka juga butuh kekuatan dan kesabaran emosional. Selain agar tak ikut larut dalam duka, tapi juga sekaligus membantu yang bersangkutan untuk bangkit kembali dan yakin bahwa masih banyak harapan untuk bertahan. Berikut beberapa caranya: 

1. Menemani. Orang yang ditinggalkan, perlu yakin bahwa ia tak sendirian menjalani kedukaan. Kunjungi si berduka sesering mungkin setelah kematian. Karena yang sering terjadi justru kedukaan lebih terasa begitu keluarga dan kerabat yang mengucapkan belasungkawa beranjak pergi dari rumah duka.

2. Berikan penghiburan berupa kata-kata dan tindakan. Kesediaan menjadi pendengar setia, memberi rangkulan, atau pelukan bisa sangat berartib buat yang berduka. Tapi jika si berduka memilih untuk tidak melakukan kedekatan fisik, penuhi keinginannya. 

3. Pahami kehilangannya. Jangan memcoba mengajaknya si berduka berbicara untuk memperbaiki kedukaannya, membuat segala hal lebih rasional, tak menghiraukan rasa dukanya atau berusaha untuk mengecilkan perasaan sedihnya adalah tindakan yang sangat kejam. 

4. Dengarkan keluh kesahnya dengan perhatian. Si berduka mungkin perlu seseorang yang bisa mendengarkan apa yang dirasakannya. Biarkan dia bicara, beri komentar seperlunya tapi jangan mengarahkan apa yang ingin dibicarakannya.

5. Menerima reaksi duka. Orang yang berduka kadang mengalami goncangan, marah, sedih atau perasaan bersalah. Seringkali juga diikuti oleh efek behavioral atau kognitif seperti sulit tidur, sulit berkonsentrasi, bingung atau tak tahu harus berbuat apa. Menurut University of Illinois Counseling Center memberi ruang si berduka untuk merasakan semua ini adalah bagian dari pemulihan juga. 

6. Beri dukungan yang praktis. Di rumah duka seringkali banyak pekerjaan yang terbengkalai. Beri bantuan Anda untuk membuat rumah duka tetap layak untuk dihuni, seperti menjaga kebersihan standar, menyiapkan makanan untuk keluarga yang berduka yang pasti tak sempat memikirkannya, dan sebagainya. 

7. Beri dukungan sosial. Pasca kematian seringkali orang yang ditinggalkan punya kesulitan kembali mengikuti kegiatan sosial yang biasa diikuti. Bisa jadi ini karena situasi berkumpul dengan orang yang dikenalnya bisa mengingatkan si berduka akan orang yang telah wafat. Ajak dan temani si berduka untuk kembali ke kegiatan sosialnya dan kembali ke kehidupan normalnya. 

Mungkin pengalaman dari saya dapat dijadikan pelajaran dalam menyikapi seseorang yang sedang berduka sehingga tidak membuatnya merasa lebih bersedih atau bahkan berubah menjadi perasaan-perasaan yang lainnya.